Senin, 25 Juni 2018

Bertakwa kepada Allah SWT sebatas kemampuan

CoPast..
Selamat berMuhasabah Diri.. ❤

Tafakkur

MASTATHO'TUM...
(Sebuah Kata Yang Penuh) Energi Ketakwaan)

Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, seorang ulama pejuang yg sangat disegani. Ia yg mampu mengobarkan semangat juang para mujahidin Afghan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.

Suatu hari ia ditanya seorang muridnya,
“Ya Syaikh, apakah yg dimaksud dengan mastatho’tum?”

Sang murid menanyakan kata yg terdapat dalam Al Quran, tepatnya di Surat At Taghabun ayat 16, yg berbunyi:
fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.


Apa yg dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tsb?

Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.

Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.

Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.

Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yg sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling pandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yg sudah tua itu kepayahan.

Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.

Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yg terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yg lebih teduh, dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.

Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya.

Baru kemudian, murid lainnya bertanya,
“Syaikh, apa yg hendak engkau ajarkan kepada kami ?”

Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata,

“Muridku, inilah yg dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga, sampai Allah sendiri yg menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.

* * *

Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yg dilakukan seorang hamba untuk memenuhi panggilan Rabbnya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga, dengan kemampuan yg ia miliki sampai titik terendah.

Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.

* * *

Inilah esensi unsur tawakkal, senantiasa terikat dengan sunnatullah...

Inilah buah dari keimanan yg kuat lagi kokoh, yakni ikhtiar yg keras, cerdas dan tak kenal menyerah dalam koridor taqorrub ilallah.

Inilah takwa sepenuh hati..
Takwa sepenuh jiwa dan raga...

Semoga bermanfaat...

Baarakallahu fiikum

Tidak ada komentar: